Inilah Pengobatan Absestosis

Merupakan penyakit paru-paru yang muncul disebabkan karena paparan serat asbes dalam jangka waktu yang panjang disebut dengan absestosis. Penyakit ini cukup berbahaya, karena gejala yang muncul baru bertahun-tahun setelah seseorang sudah terlebih dahulu terpapar serat asbes. Tentunya menjadi perhatian tersendiri bagi seseorang yang ingin memakai bahan bangunan yang satu ini.

Asbes adalah salah satu jenis mineral yang pada umumnya dipakai untuk atap bangunan, bahan ini tidak akan membahayakan kesehatan jika kondisinya masih bagus dan baik. Namun apabila sudah rusak, asbes bisa mengeluarkan debu halus yang mengandung serat asbes. Serat asbes merupakan penyebab utama seseorang mengidap penyakit paru-paru.

Pengobatan Absestosis

Diagnosis dari penyakit ini adalah dokter akan menanyakan gejala awal yang dialami para pasien beserta riwayat penyakit dan terkait pekerjaan pasien apakah berkaitan dengan kondisi rentan terpapar debu asbes. Selain itu, dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan termasuk fisik dan pemeriksaan fisik pada dada.

Selanjutnya dokter akan melakukan pemindaian dengan Rontgen dada dan CT scan, tujuannya adalah melihat gambaran mengenai kondisi paru-paru. Dilanjutkan dengan tes fungsi paru, gunanya untuk mengetahui fungsi pernapasan dan mengukur jumlah serta tes kecepatan udara yang dihirup dan dihembuskan oleh penderita.

Terakhir adalah melakukan pengambilan sampel jaringan yang disebut biopsi terkait cairan yang terdapat di dalam paru-paru, tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya kelainan di dalam paru-paru tersebut. Ketika diagnosa sudah diketahui, nantinya dokter akan menyarankan pasien melakukan pengobatan jika ternyata terbukti mengidap penyakit ini.

Tujuan dilakukannya pengobatan adalah meredakan gejala dan memperlambat pertumbuhan penyakit seta mencegah komplikasi. Berikut ini terdapat beberapa metode pengobatan yang nantinya akan dilakukan oleh para pasien atau penderita penyakit ini.

  • Pemberian oksigen dengan tujuan mengatasi kekurangan oksigen yang diakibatkan adanya gangguan pernapasan.
  • Terapi rehabilitasi pada paru-paru, tujuannya untuk membantu agar paru bisa bekerja secara lebih efektif.
  • Pasien juga akan diberikan teknik pernapasan, selain itu jika pasien sudah mengalami penurunan fungsi paru maka disarankan untuk tranplantasi atau cangkok paru-paru.

Ketika menjalani masa pengobatan penderita diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan dokter secara rutin, pemindaian dan tes fungsi paru secara berkala akan dilakukan dokter guna mengetahui sampai mana perkembangan dari pengobatan yang dilakukan para pasien. Terdapat beberapa hal yang nantinya disarankan dokter agar dijalankan oleh para pasien, seperti berikut ini.

  • Sebisa mungkin menjauhi paparan debu asbes, supaya penderita tidak semakin berada dalam kondisi memburuk.
  • Apabila pasien adalah perokok aktif maka sebisa mungkin menghentikan kebiasaan tersebut dan berusaha untuk menjauhi asap rokok.
  • Melakukan vaksinasi flu dan pneumonia, tujuannya adalah untuk mengurangi risiko dari adanya infeksi paru-paru.

Pencegahan Absestosis

Sebagai cara terbaik untuk mencegah adanya infeksi penyakit ini yang paling utama adalah menghindari paparan asbes. Terlebih bagi seseorang yang bekerja di bidang yang rentan terhadap paparan asbes. Cara pencegahan bisa dilakukan dengan menggunakan pelindung wajah dan pakaian khusus ketika sedang bekerja, seperti memakai masker dan lain sebagainya.

Apabila bangunan rumah menggunakan asbes dan sudah rusak, segera diganti dengan bahan lain yang lebih aman. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa asbes rusak merupakan penyebab utama seseorang bisa terkena penyakit paru-paru ini. Guna pencegahan lebih awal, segera lakukan pemeriksaan ke dokter setelah muncul gejala penyakit ini supaya mendapat penanganan tepat.

Read More

Mengenal Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Kepribadian Anak

Pemilihan pola asuh sama sekali bukan hal yang mudah. Dilatarbelakangi oleh banyak faktor, kadang orang tua memilih untuk menerapkan pola asuh otoriter.

Tidak ada yang menyatakan bahwa mengasuh anak adalah hal yang mudah. Namun, menerapkan pola asuh otoriter yang cenderung menuntut anak untuk selalu menuruti keinginan orang tua juga bukanlah pilihan ideal. Baik bagi anak, maupun orang tua sendiri.

Sebelum bicara terkait dampak pola asuh tersebut kepada kepribadian anak, mari kita kenali terlebih dahulu ciri-ciri dari pola asuh otoriter ini.

Ciri pola asuh otoriter

Pola asuh ini biasanya berangkat dari keyakinan orang tua bahwa perilaku anak harus dibentuk dengan standar yang ketat. Tidak heran, dalam pelaksanaannya gaya pengasuhan ini cenderung keras, mengendalikan, memiliki tuntutan yang tinggi, dengan penghargaan yang sangat minimal terhadap anak.

Lebih jelas, di bawah ini adalah ciri-ciri pola asuh otoriter:

1. Banyak aturan

Biasanya, dalam pola asuh otoriter ada banyak sekali aturan orang tua yang harus diikuti oleh anak. Hampir setiap aspek kehidupan anak akan diatur oleh orang tua, termasuk bagaimana anak harus bersikap di rumah dan di depan umum.

Bagian yang sangat menyedihkan dan membingungkan bagi anak, mereka tidak pernah mendapat penjelasan mengapa aturan-aturan tersebut perlu diikuti.

2. Sikap orang tua cenderung dingin

Pujian dan dukungan bukanlah hal yang akan diperoleh anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter. Orang tua cenderung dingin dan kasar, lebih banyak meneriaki dan mengomel. Orang tua juga jarang sekali mau mendengarkan anak. Pokoknya, hal terpenting adalah menerapkan kedisiplinan.

3. Komunikasi satu arah

Hampir tidak ada komunikasi dari hati ke hati antara orang tua dan anak yang ada dalam pola asuh otoriter. Keputusan akan diambil secara sepihak oleh orang tua. Anak tidak akan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, tidak akan mendapat penjelasan mengapa keputusan tersebut perlu diambil, tetapi anak harus mematuhi dan menyetujui setiap keputusan.

4. Penerapan hukuman yang kasar

Dalam pola asuh otoriter, rasa takut dijadikan alat untuk mengontrol anak. Saat anak membuat kesalahan, orang tua tidak akan mengajaknya berdiskusi dan menjelaskan letak kesalahan tersebut, tapi akan menghukum anak dengan penuh marah dan kasar. Tak sedikit yang bahkan melibatkan tindak kekerasan fisik.

5. Tidak memberi pilihan pada anak

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter bertindak sangat dominan. Jangankan untuk mengambil keputusan atau memilih, anak bahkan tidak akan diberi kesempatan untuk sekadar menyampaikan pendapatnya.

Dampaknya bagi anak

Sudah dapat dibayangkan, anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter akan tertekan. Tidak ada kehangatan yang diperolehnya dan ia hidup dalam rasa takut yang cenderung konstan.

Banyak kasus menunjukkan, tingkat depresi anak yang tumbuh dalam pengasuhan otoriter ini cenderung tinggi. Anak juga menjadi takut mengemukakan pendapat, sulit mengambil keputusan, dan memiliki keterampilan sosial yang kurang baik.

Tingkat harga diri anak pun cenderung rendah dan anak tidak familier dengan kehangatan. Bahkan, beberapa anak jadi menganggap bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang normal untuk dilakukan. Terlebih pada orang tua yang kerap melakukan hukuman dalam bentuk kekerasan fisik, rata-rata anak memiliki masalah perilaku. Sebagai contoh, anak menjadi pribadi yang sangat agresif di luar rumah.

Pola asuh otoriter ini kerap bersifat turun-temurun. Anak yang diasuh dalam pola tersebut, besar kemungkinan akan mengasuh anaknya dengan pola yang sama. Menimbang besarnya dampak negatif dari pola asuh ini, maka pola asuh otoriter sangat tidak disarankan.

Read More

Menilik Perbedaan Asam Askorbat dan Asam Sitrat

Asam askorbat alami biasanya bersumber buah-buahan sitrus seperti jeruk

Dalam menjalankan mekanismenya, tubuh membutuhkan beragam zat agar berlangsung dengan lancar. Salah satu zat yang dibutuhkan adalah asam askorbat. Tubuh membutuhkan zat itu untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin c. Sebab, begitu banyak fungsi vitamin c dalam serangkaian mekanisme kerja tubuh.

Tubuh Anda membutuhkan vitamin C untuk pertumbuhan jaringan, perbaikan dan penyembuhan luka. Vitamin C juga mengandung antioksidan yang membantu melindungi sel-sel dari zat-zat yang merusak DNA.

Fakta di lapangan menyebutkan bahwa ada sesuatu yang memiliki peran dan fungsi serupa dengan asam askorbat, yakni asam sitrat. Pertanyaannya adalah, apakah asam sitrat itu benar-benar identik dengan asam askorbat sehingga keberadaannya bisa untuk menggantikan asam askorbat? Berikut penjelasannya:

Definisi dan Pengertian

Untuk dapat mengidentifikasi keduanya, kita harus mengerti dahulu secara mendetail mengenai apa itu asam askorbat dan asam sitrat.

  • Asam Askorbat

Asam askorbat adalah nama bahan kimia alami dari vitamin C. Zat ini banyak ditemukan dalam buah, meski tak sedikit pula sayuran yang mengandung asam askorbat. Buah-buahan seperti jeruk, limau, hingga kiwi merupakan deretan jenis yang banyak mengandung asam askorbat. 

Menurut National Institutes of Health, kecukupan gizi yang dianjurkan untuk vitamin C adalah sebesar 75 mg untuk wanita dewasa dan 90 mg untuk pria. Sedangkan untuk perokok, memerlukan tambahan vitamin C sekitar 35 mg setiap hari.

Vitamin C termasuk dalam vitamin larut air dan tidak dapat disimpan dalam tubuh jika asupannya berlebihan. Beberapa bahan makanan seperti buah dan sayur akan berkurang kandungan vitamin C-nya saat terkena panas, sehingga asam askorbat dapat ditambahkan kembali ke makanan untuk meningkatkan atau mengganti vitamin C yang hilang selama proses memasak.

Sementara itu, asam askorbat umumnya digunakan untuk mengobati dan mencegah kekurangan vitamin C atau yang biasa disebut dengan skorbut (penyakit kekurangan vitamin C pada tubuh).

  • Asam sitrat

Sebenarnya asam sitrat tidak jauh berbeda dengan asam askorbat. Perbedaan yang paling kentara adalah senyawa ini merupakan buatan manusia atau sintetis. Asam sitrat juga memiliki antioksidan dan merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus citrus. Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang bisa digunakan sebagai penambah rasa asam pada makanan dan minuman ringan. 

Beragam Fungsi

Sifat utama asam askorbat dan asam sitrat merupakan antioksidan. Hal itu menjadikan keduanya dapat membantu menghilangkan oksigen selama proses produksi dan penyimpanan makanan. Oleh karena itu, baik asam askorbat dan asam sitrat memiliki fungsi utama sebagai penjaga kesegaran makanan dan rasa. Meski memang ada beragam fungsi lain dari keduanya.

Asam sitrat merupakan pengawet yang lebih umum digunakan, karena harganya lebih murah dan tersedia dalam jumlah banyak. Asam sitrat juga dapat menurunkan pH makanan dan minuman sehingga membantu cegah pertumbuhan bakteri dan mikroba.

Sedangkan asam askorbat melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk mempertahankan warna alami pada makanan tertentu, terutama buah-buahan, sayuran dan bahkan daging yang bisa berubah menjadi kecokelatan ketika terkena oksigen.

Mengenai Rasa

Kedua senyawa ini sama-sama digunakan dalam pengolahan makanan. Akan tetapi ada perbedaan rasa yang dapat mempengaruhi produk makanan yang dicampurkan.

Asam askorbat memiliki rasa yang sedikit pahit dan masam, sedangkan asam sitrat memiliki rasa yang tidak terlalu getir dan masam sehingga lebih disukai untuk meningkatkan rasa makanan seperti kue, minuman soda, minuman kemasan, dan permen.

Itulah beberapa hal yang sekiranya bisa membantu Anda mengidentifikasi perbedaan di antara asam askorbat dan asam sitrat. Kendati keduanya sama-sama dibutuhkan oleh tubuh, tetapi penggunaan yang tidak bertanggung jawab (berlebihan) bisa saja menimbulkan masalah kesehatan. 

Read More

Risiko Chemical Peel Sendiri di Rumah

Tidak diragukan lagi bahwa banyak orang terutama perempuan ingin mempunyai wajah yang putih, bersih dan terlihat segar. Tak sedikit perempuan yang melakukan segara cara baik menggunakan berbagai macam produk kosmetik hingga menjalani perawatan Chemical Peel. Meski demikian, salah satu perawatan wajah ini bisa saja merusak wajah jika dilakukan dengan asal.

Tujuan perawatan ini memang baik yakni memperbaiki dan membuat lembut lapisan kulit terluar yang sudah rusak. Namun, perawatan ini juga bisa membuat kulit wajah mengelotok hingga memerah seperti terbakar. Hal ini diakibatkan karena adanya pengelupasan kulit ketika melakukan perawatan wajah ini, dampak lainnya adalah gampang terserang flek atau bintik hitam.

Dampak Chemical Peel

Elastisitas pada kulit akan berkurang jauh jika kulit tersebut menjadi tipis dan biasanya akan sangat sensitif terhadap sinar matahari. Selain itu, kulit tidak memiliki pigmen yang cukup melindunginya dari penuaan dini. Hal ini membuat seseorang memerlukan perawatan ekstra, alasannya karena kulit tak jarang terlihat menampakkan garis-garis harus.

Pakar kulit dan kelamin, Dr Retno Iswari Tranggono, SpKK menyebut bahwa tidak benar-benar ada istilah beauty is pain. Menurutnya kulit cantik dan sehat bukan merupakan hasil dari perawatan dengan cara instan. Melainkan menggunakan perawatan yang benar-benar rutin dan selalu terjaga kondisinya.

Diakui oleh Dr Retno Iswari Tranggono, SpKK bahwa kulit perempuan Indonesia tidak akan pernah seputih kulit perempuan Jepang atau China. Hal ini berdasar pada melalin atau zat warna kulit yang terdapat di dalam tubuh perempuan Aisa sudah cukup banyak. Hal ini berdampak pada proses pemutihan maka pigmen yang seharusnya menolak sinar matahari malah berkurang.

Lebih lanjut, diakui oleh Retno Iswari bahwa teknik pengelupasan atau peeling yang dilakukan baik menggunakan alat atau krim saat ini memang memberikan hasil yang instan. Namun, misalnya satu kali lepas dari penggunaan krim pengelupasan maka wajah secara otomatis akan kembali menjadi hitam.

Tak hanya membuat wajah kembali hitam, sekali berhenti melakukan pemakaian produk krim peeling tersebut bisa lebih parah dari itu. Misalnya seperti membengkak, muncul bintik-bintik putih dan hitam hingga jerawat ganas. Meski demikian, jika seseorang sudah dalam kondisi ini, terdapat beberapa cara untuk mengobatinya.

Dampak yang paling dikhawatirkan adalah jika krim yang digunakan mengandung zat pemutih seperti merkuri, Retin A dan hydroquinon. Beberapa kandungan ini jika digunakan akan masuk ke pembuluh darah dan menimbulkan pembengkakan, paling parah bisa menimbulkan kanker kulit hingga merusak ginjal dan hati.

Salah satu dampak paling parah penggunaan peeling secara mandiri di rumah bisa dialami ibu hamil. Dampak buruk ini bisa disebabkan karena beberapa kandungan yang disebutkan di atas, bahan-bahan tersebut bisa membuat keracunan pada embrio, teratogenic hingga munculnya cacat pada janin ibu hamil.

Terlepas dari Chemical Peel yang dianggap merupakan cara instan untuk merawat kulit, terdapat cara yang lebih aman. Pada dasarnya kulit manusia mengalami pertumbuhan setiap 21 hari untuk melakukan regenerasi. Nantinya kulit mati bisa diangkat menggunakan scrub atau dengan menggunakan alat micro dermabration atau teknik mengangkat kulit mati dengan bubuk abrasi.

Cara tersebut membuat lapisan kulit tanduk akan terangkat, selain itu untuk melakukan perawatan scrubbing seseorang tak perlu menunggu berumur lebih dari 20 tahun karena bisa dilakukan sejak usia 17 tahun. Berbeda dengan peeling dan micro dermabration yang baru bisa dilakukan mulai umur 30 tahun.

Read More