Mengenal Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Kepribadian Anak

Pemilihan pola asuh sama sekali bukan hal yang mudah. Dilatarbelakangi oleh banyak faktor, kadang orang tua memilih untuk menerapkan pola asuh otoriter.

Tidak ada yang menyatakan bahwa mengasuh anak adalah hal yang mudah. Namun, menerapkan pola asuh otoriter yang cenderung menuntut anak untuk selalu menuruti keinginan orang tua juga bukanlah pilihan ideal. Baik bagi anak, maupun orang tua sendiri.

Sebelum bicara terkait dampak pola asuh tersebut kepada kepribadian anak, mari kita kenali terlebih dahulu ciri-ciri dari pola asuh otoriter ini.

Ciri pola asuh otoriter

Pola asuh ini biasanya berangkat dari keyakinan orang tua bahwa perilaku anak harus dibentuk dengan standar yang ketat. Tidak heran, dalam pelaksanaannya gaya pengasuhan ini cenderung keras, mengendalikan, memiliki tuntutan yang tinggi, dengan penghargaan yang sangat minimal terhadap anak.

Lebih jelas, di bawah ini adalah ciri-ciri pola asuh otoriter:

1. Banyak aturan

Biasanya, dalam pola asuh otoriter ada banyak sekali aturan orang tua yang harus diikuti oleh anak. Hampir setiap aspek kehidupan anak akan diatur oleh orang tua, termasuk bagaimana anak harus bersikap di rumah dan di depan umum.

Bagian yang sangat menyedihkan dan membingungkan bagi anak, mereka tidak pernah mendapat penjelasan mengapa aturan-aturan tersebut perlu diikuti.

2. Sikap orang tua cenderung dingin

Pujian dan dukungan bukanlah hal yang akan diperoleh anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter. Orang tua cenderung dingin dan kasar, lebih banyak meneriaki dan mengomel. Orang tua juga jarang sekali mau mendengarkan anak. Pokoknya, hal terpenting adalah menerapkan kedisiplinan.

3. Komunikasi satu arah

Hampir tidak ada komunikasi dari hati ke hati antara orang tua dan anak yang ada dalam pola asuh otoriter. Keputusan akan diambil secara sepihak oleh orang tua. Anak tidak akan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, tidak akan mendapat penjelasan mengapa keputusan tersebut perlu diambil, tetapi anak harus mematuhi dan menyetujui setiap keputusan.

4. Penerapan hukuman yang kasar

Dalam pola asuh otoriter, rasa takut dijadikan alat untuk mengontrol anak. Saat anak membuat kesalahan, orang tua tidak akan mengajaknya berdiskusi dan menjelaskan letak kesalahan tersebut, tapi akan menghukum anak dengan penuh marah dan kasar. Tak sedikit yang bahkan melibatkan tindak kekerasan fisik.

5. Tidak memberi pilihan pada anak

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter bertindak sangat dominan. Jangankan untuk mengambil keputusan atau memilih, anak bahkan tidak akan diberi kesempatan untuk sekadar menyampaikan pendapatnya.

Dampaknya bagi anak

Sudah dapat dibayangkan, anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter akan tertekan. Tidak ada kehangatan yang diperolehnya dan ia hidup dalam rasa takut yang cenderung konstan.

Banyak kasus menunjukkan, tingkat depresi anak yang tumbuh dalam pengasuhan otoriter ini cenderung tinggi. Anak juga menjadi takut mengemukakan pendapat, sulit mengambil keputusan, dan memiliki keterampilan sosial yang kurang baik.

Tingkat harga diri anak pun cenderung rendah dan anak tidak familier dengan kehangatan. Bahkan, beberapa anak jadi menganggap bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang normal untuk dilakukan. Terlebih pada orang tua yang kerap melakukan hukuman dalam bentuk kekerasan fisik, rata-rata anak memiliki masalah perilaku. Sebagai contoh, anak menjadi pribadi yang sangat agresif di luar rumah.

Pola asuh otoriter ini kerap bersifat turun-temurun. Anak yang diasuh dalam pola tersebut, besar kemungkinan akan mengasuh anaknya dengan pola yang sama. Menimbang besarnya dampak negatif dari pola asuh ini, maka pola asuh otoriter sangat tidak disarankan.

Read More

Tanda-tanda Kamu dan Pasangan Pacaran Sehat

Semua orang pastinya ingin memiliki hubungan percintaan yang harmonis dan langgeng. Namun, tentu saja, dalam setiap hubungan asmara, akan terjadi pertentangan ego, ideologi, dan emosi yang menjadi bumbu-bumbu romansa. Tidak jarang pertentangan ini dapat menyebabkan pertikaian konflik kepentingan. Singkatnya, bertengkar dengan pacar merupakan hal yang lumrah dalam sebuah hubungan. Bukan berarti sering berantem adalah tanda bahwa kamu tidak memiliki pacaran sehat. Namun, sesungguhnya, apa itu pacaran sehat yang sering digembar-gemborkan oleh para influencer itu?

Ada beberapa poin atau tanda bahwa kamu dan pasangan melakukan pacaran sehat. Mulai dari komunikasi yang baik, dekat secara intim, selalu jujur dengan pasangan, hingga mampu saling menjaga komitmen yang dibangun. Secara detail, tanda-tanda pacaran sehat adalah sebagai berikut:

  • Komunikasi yang dimiliki sangat baik

Seperti yang dikatakan sebelumnya, berantem merupakan hal yang lumrah dalam suatu hubungan. Yang membedakan pertengkaran yang baik dan tidak dalam pacaran sehat adalah bagaimana Anda dan pasangan menyelesaikan perselisihan tersebut. Di sinilah peran komunikasi memegang kunci dalam menentukan arah ke mana perselisihan tersebut akan berlanjut. Apakah resolusi berhasil dicapai atau malah menjadi semakin tidak terkontrol. Komunikasi yang baik dapat membuat konflik tersebut tidak berlarut-larut. Menurut Josh Zlatkus, seorang terapis kesehatan, untuk mencapai sebuah bentuk komunikasi yang baik, Anda harus memperhatikan beberapa faktor penunjang, seperti keterbukaan diri Anda dan pasangan akan satu sama lain. Dengan keterbukaan, Anda dapat menghindari pertengkaran dengan pasangan. Keterbukaan ini bisa mudah dilakukan, misalnya dengan memberitahu pasangan apabila Anda merasa tidak nyaman akan suatu hal atau memiliki masalah yang mengganjal pikiran. Komunikasi yang dibangun bersama pasangan juga harus konsisten. Setiap ada masalah, bicarakan dengan pasangan dan hindari menjauh atau tidak memberi kabar. Mustahil Anda memiliki hubungan pacaran sehat tanpa memiliki komunikasi yang baik dan efektif.

  • Jujur dengan pasangan itu penting

Tanda-tanda pacaran sehat juga tampak pada kepercayaan yang diberikan antar pasangan. Agar bisa memiliki kepercayaan yang kuat terhadap pasangan, Anda harus selalu jujur dalam segala hal. Hilangnya kepercayaan antar pasangan tidak hanya membuat pacaran menjadi tidak sehat saja, tetapi juga penuh kecurigaan dan pertikaian. Teruslah berusaha untuk jujur dengan pasangan seberapa pahit atau menyakitkan hal tersebut dilakukan.

  • Tergantung namun tetap mandiri

Salah satu tanda bahwa hubungan pacaran sehat dimiliki oleh Anda dan pasangan adalah masing-masing mampu hidup mandiri dan tidak terus ketergantungan ataupun menjadi beban. Dalam sebuah hubungan percintaan, dapat mengandalkan satu sama lain memang penting. Dan hal tersebut menunjukkan bahwa pacara Anda tidak hanya sehat namun juga kuat. Aakan tetapi, keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan harus ada. Apabila Anda terlalu bergantung dengan pasangan, hubungan yang Anda miliki akan terasa sesak. Begitu pula apabila tidak ada ketergantungan dan masing-masing hidup mandiri seutuhnya, maka hubungan akan terasa longgar atau sesak. Di siini keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan memainkan peran yang besar dalam membentuk pacaran sehat. Anda bisa hidup mandiri tanpa merepotkan pacar jika tidak diperlukan, namun Anda tetap dapat mengandalkan pacar ketika dibutuhkan.

Tanda-tanda di atas dapat dijumpai apabila Anda dan pasangan memiliki hubungan pacaran sehat. Pacaran merupakan komitmen yang dibangun oleh dua individu berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Untuk itu, penting untuk terus menjaga komitmen tersebut dengan saling percaya, jujur, berkomunikasi yang baik, serta dapat mengandalkan satu sama lain.

Read More

Waspada Ketergantungan Akibat Penggunaan Obat Penenang

Obat penenang bukan hal yang asing bagi masyarakat kita. Sayangnya, informasi terkait hal tersebut banyak kita terima dari berita-berita penyalahgunaan yang dilakukan oleh para figur publik.

Sebenarnya, apa itu obat penenang dan bagaimana cara kerjanya?

Mekanisme kerja obat penenang

Sebagian orang mengalami gangguan cemas serta kesulitan tidur. Untuk mengatasi hal tersebut, dokter biasanya memberikan obat penenang. Jadi, sebetulnya obat penenang boleh digunakan selama dalam pengawasan dokter. Tentu saja, dokter telah mempertimbangkan bahwa pasien yang bersangkutan membutuhkan perawatan dengan obat penenang.

Mengapa obat penenang dapat mengatasi gangguan cemas atau kesulitan tidur?

Di dalam otak, sel-sel saraf dapat berkomunikasi dengan bantuan senyawa yang disebut neurotransmitter. Secara sederhana, neurotransmitter merupakan jembatan bagi komunikasi yang terjadi antar sel saraf.

Ketika masuk ke dalam tubuh, obat penenang akan merangsang produksi neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA) di otak. Meningkatnya jumlah produksi GABA di otak akan memperlambat komunikasi antar sel saraf atau dalam kata lain memperlambat aktivitas otak. Efeknya, orang yang meminum obat penenang tersebut akan merasa rileks, tenang, kemudian mengantuk.

Terdapat beberapa kelompok obat penenang, jenis yang paling umum digunakan adalah golongan benzodiazepin dan barbiturat. Masing-masing dengan tujuan penggunaan yang berbeda.

Golongan benzodiazepin biasa diberikan dokter untuk mengatasi masalah gangguan kecemasan, panic attack, serta stres akut. Sedang kelompok barbiturat, lazim sekali diresepkan untuk mengatasi gangguan tidur dalam jangka pendek.

Waspadai ketergantungan

Kerja obat penenang pada sistem GABA, membuatnya sangat efektif untuk mengatasi kecemasan dan memudahkan seseorang tertidur. Akan tetapi, efek samping dan toleransi obat di baliknya, perlu diwaspadai.

Sebagai contoh, penggunaan obat penenang aman untuk mengatasi gangguan tidur bila digunakan dalam jangka pendek dan di bawah pengawasan dokter. Tetapi, setelah penggunaan rutin untuk waktu cukup lama, obat penenang tersebut kehilangan dayanya untuk membuat tertidur. Hal ini terjadi karena tubuh mulai mengalami resistensi, sehingga dibutuhkan dosis obat yang lebih tinggi untuk merasakan efeknya kembali.

Kondisi tersebut berpeluang sangat besar untuk membuat seseorang ketergantungan atau adiksi. Ketergantungan yang timbul dapat berupa ketergantungan fisik dan psikis.

Secara fisik, tubuh Anda menjadi tidak nyaman sekali dan kesulitan beristirahat ketika penggunaan obat penenang dihentikan. Sementara ketergantungan secara psikis, dapat dilihat dari munculnya perasaan cemas ketika Anda berpikir untuk menghentikan penggunaan obat penenang. Anda sudah berpikir tidak akan bisa tidur tanpa obat penenang, meskipun hal tersebut belum terjadi dan baru Anda pikirkan.

Dampak ketergantungan obat penenang

Dampak terburuk dari ketergantungan, tentu saja terjadinya overdosis dan kematian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko timbulnya penyakit kanker dan penyakit jantung meningkat pada orang yang ketergantungan obat penenang.

Pada tahap awal, ketergantungan juga ditandai dengan situasi psikologis orang tersebut menjadi mudah kesal dan kecemasan meningkat. Kemudian, akan muncul kesulitan tidur karena resistensi obat. Mual dan muntah juga sangat mungkin dialami.

Pada titik tertentu, orang yang mengalami ketergantungan obat penenang dapat mengalami kejang serta kehilangan kesadaran.

Apabila Anda memiliki keluarga yang menggunakan obat penenang, perlu diperhatikan apakah ada tanda-tanda ketergantungan tersebut. Anda perlu sangat waspada, saat orang tersebut mulai merasakan kelelahan ekstrim, pupil matanya mengecil, serta pernapasan dan detak jantungnya melambat. Kondisi-kondisi tersebut merupakan tanda-tanda overdosis obat penenang. Segeralah mencari bantuan medis apabila terjadi hal-hal di atas.

Maka dari itu, penting sekali untuk menggunakan obat penenang hanya jika disarankan dokter. Penggunaannya pun benar-benar sesuai anjuran dokter dan hanya menggunakan jenis obat tersebut di bawah pengawasan dokter.

Read More