Mengenal 5 Masalah Gizi Bayi, Jangan Sepelekan!

Setiap orangtua tentu saja menginginkan bayinya mendapatkan gizi dan nutrisi yang baik serta tercukupi. Namun, asupan gizi harian bayi kadang tidak sesuai kebutuhannya, sehingga akan menimbulkan masalah gizi pada bayi itu sendiri.

masalah gizi bayi

Gizi yang tidak tercukupi akan membuat tumbuh kembang bayi tidak berjalan baik. Dampaknya akan terus berlanjut hingga bayi menginjak usia kanak-kanak bahkan dewasa.

Berbagai Masalah Gizi Bayi yang Perlu Diperhatikan

Bayi diharapkan mendapatkan asupan gizi dan nutrisi yang cukup selama periode 1000 hari pertama usianya. Usia ini mulai dihitung sejak di awal masa kehamilan atau disebut juga dengan periode emas.

Jika di periode ini terdapat masalah gizi bayi, maka dapat mengganggu perkembangan fisik dan intelektualitasnya.

Berikut sejumlah masalah gizi pada bayi yang penting untuk diperhatikan oleh Anda sebagai orangtua.

  1. Berat Badan Lahir Rendah

Bayi lahir dengan berat badan rendah merupakan salah satu masalah gizi. Berat bayi saat lahir harusnya di atas 2,5 kg. Jika bayi lahir di bawah berat normal tersebut akan berisiko mengalami gangguan perkembangan dan mudah terserang penyakit. 

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah ini akan membutuhkan perawatan intensif di ruang NICU. Bayi juga perlu diberikan ASI eksklusif setelah lahir.

Bagi ibu hamil memang penting untuk memastikan bahwa gizi selama masa kehamilannya tercukupi dengan baik. Terutama kebutuhan asam folat, zat besi, kalsium, dan protein.

  1. Bayi Kekurangan Gizi

Menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 mengenai Standar Antropometri Anak, bayi disebut kekurangan gizi ketika pengukuran berat badan menurut tinggi badannya berada di bawah normal.

Jadi, pengukuran tinggi dan berat badan bayi itu memiliki satuan yang disebut SD atau standar deviasi. Bayi yang disebut memiliki gizi baik ketika berat badan dihitung dari tinggi badannya ada di rentang -2 SD sampai 2 SD. Sedangkan bayi yang memiliki pengukuran berada di rentang -3 SD sampai kurang dari -2 SD disebut mengalami kekurangan gizi.

Misalnya, bayi perempuan yang berusia 8 bulan yang harusnya memiliki berat 8 kg, tetapi hanya memiliki berat 6 kg saja. Jadi disebut kekurangan gizi. Dampak buruknya adalah akan mempengaruhi perkembangan otak, metabolisme, dan juga otot bayi.

  1. Masalah Gizi Buruk

Gizi buruk ini jika mengambil informasi dari WHO didefenisikan jika skor z pada grafik pertumbuhan bayi kurang dari -3 SD. Jadi kondisi ini ketika berat badan berdasarkan tinggi badan bayi jauh dari rentang yang seharusnya.

Misalnya, masih mengambil contoh di atas, seorang bayi perempuan yang berusia 8 bulan dengan berat badan seharusnya 8 kg, namun hanya memiliki berat kurang dari 5,8 kg. Inilah yang disebut dengan kondisi gizi buruk pada bayi. 

Dampak buruknya juga tidak jauh berbeda dari kekurangan gizi. Masalah gizi buruk pada bayi juga akan mengganggu perkembangan kognitifnya.

  1. Masalah Kelebihan Gizi

Ternyata tidak hanya kekurangan gizi saja yang menimbulkan masalah gizi bayi, tetapi kelebihan gizi juga tidak baik. Kelebihan gizi ini adalah kondisi ketika berat badan bayi berdasarkan tinggi badannya berada di atas rentang normal. Dikatakan kelebihan gizi ketika pengukurannya ada di rentang +2 SD sampai +3 SD. 

Apa dampak buruk jika kelebihan gizi ini? Kelebihan gizi akan memicu terjadinya obesitas pada bayi. Sedangkan obesitas sendiri menjadi pemicu berbagai penyakit untuk jangka panjangnya.

  1. Stunting

Anda pasti sering mendengar istilah stunting ini. Yaitu kondisi bayi yang kekurangan gizi kronis karena kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga bayi mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Stunting tidak jauh berbeda dengan kondisi bayi kekurangan gizi. 

Masalah gizi bayi seperti stunting ini akan menyebabkan ukuran tubuh anak tidak normal atau lebih kerdil dibanding anak seusianya. Solusinya bisa dengan mengusahakan agar anak mendapat ASI dan MPASI yang bergizi demi untuk pemenuhan gizi bayi.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*