Pengobatan untuk Penyakit Diabetes Insipidus

Jika Anda sering merasa dehidrasi dan volume urine terlalu banyak 3-4 liter dalam satu hari, kondisi ini bisa dibilang sebagai gejala diabetes insipidus. Diagnosis bisa dilakukan dengan beberapa tes, termasuk pemeriksaan urine dan cairan. Urine pada penderita diabetes insipidus memiliki konsentrasi yang lebih rendah. Konsentrasi garam dan produk sisa rendah dan jumlah air yang diekresikan tinggi.

Dokter mengevaluasi konsentrasi urine dengan mengukur berapa banyak partikel dalam 1 kilogram air atau membandingkan berat urine dengan volume air suling yang sama. Pengobatan diabetes insipidus pun tergantung tipe dan beratnya kondisi penderita. Pada kasus yang lebih ringan, dokter akan merekomendasikan penderita untuk mengelola konsumsi cairan hariannya.

  • Pengobatan hormon

Pengobatan yang paling umum dari semua tipe diabetes insipidus adalah desmopressin, yang merupakan bentuk sintetik dari hormon vasopressin.

  • Obat dan perawatan

Pada penderita diabetes insipidus nefrogenik, mengobati penyebab dapat menyembuhkan masalah, termasuk desmoressin dosis tinggi, bersamaan dengan obat lain seperti diuretic bisa dikonsumsi sendiri atau bersama dengan aspirin/ibuprofen/indometasin.

Pengobatan diabetes insipidus dengan desmopressin tersedia dalam bentuk semprotan hidung dan tablet. Desmopressin umumnya aman dengan sedikit efek samping, seperti sakit kepala, sakit perut, hidung tersumbat, dan mimisan.  

Untuk obat berbentuk semprotan hidung, cukup menyemprotkannya sekali atau dua kali sehari. obat jenis ini dapat menyerap dengan cepat dalam aliran darah. Namun, saat pilek obat ini tidak direkomendasikan untuk digunakan. Sedangkan untuk obat tablet, perlu meminumnya lebih dari dua kali sehari. Hal ini dikarenakan obat ini tidak diserap secara efektif oleh usus dibandingkan lewat saluran hidung.

  • Mengobati kondisi khusus

Jika diabetes insipidus disebabkan oleh kondisi lain, seperti tumor atau masalah dengan kelenjar pituitary, maka dokter akan mengobati kondisii tersebut dan kemudian menentukan apakah pasien membutuhkan pengobatan. Tidak ada pengobatan spesifik untuk dipsogenic (rasa haus), tetapi pengobatan difokuskan pada gejala atau penyakit mental yang mendasarinya.

Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat dua gejala utama dari diabetes insipidus, yaitu urine berlebih dan sering merasa dehidrasi. Sebelum berkonsultasi ke dokter pun Anda perlu mempersiapkan hal-hal berikut ini:

  • Mengetahui hal-hal yang harus dihindari sebelum melakukan pemeriksaan
  • Tuliskan semua gejala yang dialami, termasuk yang tidak berhubungan dengan alasan menemui dokter
  • Tuliskan informasi pribadi yang penting
  • Tuliskan informasi medis pribadi dan keluarga
  • Ajak teman atau keluarga saat berkonsultasi ke dokter untuk membantu mengingat informasi
  • Tuliskan pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter

Saat berkonsultasi dokter biasanya akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk menegakkan diagnosisnya. Biasanya dokter akan menanyakan:

  • Sejak kapan mengalami gejala?
  • Berapa banyak mengeluarkan urine dalam sehari?
  • Berapa banyak minum air dalam sehari?
  • Apakah Anda bangun di tengah malam untuk mengeluarkan urine dan minum air?
  • Apakah Anda hamil?
  • Apakah Anda sudah diobati atau baru saja melakukan pengobatan terhadap kondisi medis?
Read More

Hal-hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Sepsis

Sepsis adalah hasil respon kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri yang masuk ke dalam darah. Sepsis sering mengakibatkan kegagalan organ tubuh dan cedera. Sepsis merupakan kondisi darurat medis yang dapat berakibat fatal bakit mereka yang mengidap “keracunan darah” ini. Setiap tahunnya di Amerika Serikat terdapat lebih dari 1 juta kasus sepsis dengan sepsis sebagai salah satu dari 10 penyakit paling mematikan di Amerika. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar sepsis dengan lebih mendalam.

Apa itu sepsis?

Sepsis merupakan kondisi spesifik tertentu yang disebabkan oleh infeksi bakteri di dalam darah, biasa disebut dengan septicemia atau keracunan darah. Septicemia dapat menyebabkan sepsis saat racun dilepaskan oleh bakteri penyebab septicemia dan sistem kekebalan tubuh mengaktifkan respon peradangan besar-besaran untuk melawan racun ini (proses ini disebut dengan sepsis).

Infeksi bakteri adalah penyebab umum dan utama penyakit sepsis. Infeksi tubuh apapun dapat memicu kondisi ini dan organ yang paling rawan terkena adalah paru-paru, saluran kemih, dan daerah perut. Penelitian juga menunjukkan sepsis yang disebabkan karena infeksi jamur juga semakin bertambah akhir-akhir ini. Lansia memiliki risiko terkena sepsis lebih besar. Hal ini dikarenakan efek penuaan terhadap sistem kekebalan tubuh. Risiko terkena sepsis juga meningkat bagi mereka yang baru saja selesai menjalani operasi.

Sepsis dapat menyerang siapa saja yang memiliki infeksi akibat komplikasi, namun orang-orang yang paling rentan terkena sepsis adalah anak-anak dan orang tua, dan orang-orang dengan faktor risiko seperti sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit kronis seperti diabetes, penyakit hati dan ginjal, AIDS, dan kanker, dan luka parah seperti kulit terbakar. Kerentanan terhadap penyakit sepsis mulai menyebar karena banyak orang mulai melakukan prosedur invasif seperti transplantasi organ dan melakukan kemoterapi serta resistensi terhadap antibiotik (mikroba semakin kebal terhadap obat-obatan yang seharusnya mengatur infeksi).

Pencegahan penyakit sepsis

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan 3 pendekatan umum untuk megurangi risiko infeksi yang dapat mengakibatkan sepsis. Tiga pendekatan ini penting terutama untuk anak-anak, orang tua, dan mereka yang rentan menderita komplikasi karena infeksi. 3 hal yang harus dilakukan tersebut adalah:

  • Apabila disarankan oleh dokter, lakukan vaksinasi untuk melawan potensi terjadinya infeksi seperti vaksinasi flu dan pneumonia
  • Pastikan luka atau lecet tetap bersih untuk menghindari infeksi dan lakukan gaya hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan teratur
  • Apabila terjadi infeksi, waspada terhadap gejala-gejala sepsis seperti demam, detak jantung yang cepat, pernapasan yang cepat, serta bingung, dan dapatkan bantuan medis secepatnya.

Sepsis pada bayi dan lansia

Sepsis dapat terjadi pada bayi yang baru lahir. Risiko sepsis meningkat terutama pada bayi yang lahir prematur, tingkat kelahiran rendah, dengan nilai APGAR yang rendah, dan infeksi pada ibu atau hadirnya streptococcus grup B di dubur dan vagina. Sepsis ini umumnya akan terjadi pada bayi laki-laki. Penyebab sepsis pada bayi dapat disebabkan karena virus, bakteri, atau jamur. Komplikasi dapat berupa encephalitis dan meningitis. Perawatan sepsis ini dapat dilakukan. Sepsis ini fatal pada bayi, terutama mereka yang lahir prematur. Pada lansia, risiko sepsis meningkat terutama pada mereka yang menderita kanker, diabetes, dan penyakit kronis lainnya. Mereka yang memiliki sistem imun lemah dan batasan fungsi akibat hilangnya otot dan perubahan saraf juga rentan terkena sepsis. Selain itu, efek penuaan juga meningkatkan risiko seseorang menderita sepsis.

Read More