Waspada Ketergantungan Akibat Penggunaan Obat Penenang

Obat penenang bukan hal yang asing bagi masyarakat kita. Sayangnya, informasi terkait hal tersebut banyak kita terima dari berita-berita penyalahgunaan yang dilakukan oleh para figur publik.

Sebenarnya, apa itu obat penenang dan bagaimana cara kerjanya?

Mekanisme kerja obat penenang

Sebagian orang mengalami gangguan cemas serta kesulitan tidur. Untuk mengatasi hal tersebut, dokter biasanya memberikan obat penenang. Jadi, sebetulnya obat penenang boleh digunakan selama dalam pengawasan dokter. Tentu saja, dokter telah mempertimbangkan bahwa pasien yang bersangkutan membutuhkan perawatan dengan obat penenang.

Mengapa obat penenang dapat mengatasi gangguan cemas atau kesulitan tidur?

Di dalam otak, sel-sel saraf dapat berkomunikasi dengan bantuan senyawa yang disebut neurotransmitter. Secara sederhana, neurotransmitter merupakan jembatan bagi komunikasi yang terjadi antar sel saraf.

Ketika masuk ke dalam tubuh, obat penenang akan merangsang produksi neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA) di otak. Meningkatnya jumlah produksi GABA di otak akan memperlambat komunikasi antar sel saraf atau dalam kata lain memperlambat aktivitas otak. Efeknya, orang yang meminum obat penenang tersebut akan merasa rileks, tenang, kemudian mengantuk.

Terdapat beberapa kelompok obat penenang, jenis yang paling umum digunakan adalah golongan benzodiazepin dan barbiturat. Masing-masing dengan tujuan penggunaan yang berbeda.

Golongan benzodiazepin biasa diberikan dokter untuk mengatasi masalah gangguan kecemasan, panic attack, serta stres akut. Sedang kelompok barbiturat, lazim sekali diresepkan untuk mengatasi gangguan tidur dalam jangka pendek.

Waspadai ketergantungan

Kerja obat penenang pada sistem GABA, membuatnya sangat efektif untuk mengatasi kecemasan dan memudahkan seseorang tertidur. Akan tetapi, efek samping dan toleransi obat di baliknya, perlu diwaspadai.

Sebagai contoh, penggunaan obat penenang aman untuk mengatasi gangguan tidur bila digunakan dalam jangka pendek dan di bawah pengawasan dokter. Tetapi, setelah penggunaan rutin untuk waktu cukup lama, obat penenang tersebut kehilangan dayanya untuk membuat tertidur. Hal ini terjadi karena tubuh mulai mengalami resistensi, sehingga dibutuhkan dosis obat yang lebih tinggi untuk merasakan efeknya kembali.

Kondisi tersebut berpeluang sangat besar untuk membuat seseorang ketergantungan atau adiksi. Ketergantungan yang timbul dapat berupa ketergantungan fisik dan psikis.

Secara fisik, tubuh Anda menjadi tidak nyaman sekali dan kesulitan beristirahat ketika penggunaan obat penenang dihentikan. Sementara ketergantungan secara psikis, dapat dilihat dari munculnya perasaan cemas ketika Anda berpikir untuk menghentikan penggunaan obat penenang. Anda sudah berpikir tidak akan bisa tidur tanpa obat penenang, meskipun hal tersebut belum terjadi dan baru Anda pikirkan.

Dampak ketergantungan obat penenang

Dampak terburuk dari ketergantungan, tentu saja terjadinya overdosis dan kematian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko timbulnya penyakit kanker dan penyakit jantung meningkat pada orang yang ketergantungan obat penenang.

Pada tahap awal, ketergantungan juga ditandai dengan situasi psikologis orang tersebut menjadi mudah kesal dan kecemasan meningkat. Kemudian, akan muncul kesulitan tidur karena resistensi obat. Mual dan muntah juga sangat mungkin dialami.

Pada titik tertentu, orang yang mengalami ketergantungan obat penenang dapat mengalami kejang serta kehilangan kesadaran.

Apabila Anda memiliki keluarga yang menggunakan obat penenang, perlu diperhatikan apakah ada tanda-tanda ketergantungan tersebut. Anda perlu sangat waspada, saat orang tersebut mulai merasakan kelelahan ekstrim, pupil matanya mengecil, serta pernapasan dan detak jantungnya melambat. Kondisi-kondisi tersebut merupakan tanda-tanda overdosis obat penenang. Segeralah mencari bantuan medis apabila terjadi hal-hal di atas.

Maka dari itu, penting sekali untuk menggunakan obat penenang hanya jika disarankan dokter. Penggunaannya pun benar-benar sesuai anjuran dokter dan hanya menggunakan jenis obat tersebut di bawah pengawasan dokter.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*