Waspadai Antimon, Logam Beracun yang Bisa Menyusup ke Tubuh Kita

antimon logam beracun

Antimon adalah kandungan kimia yang berasal dari biji besi. Unsur kimia dengan lambang Sb dan nomor atom 51 ini digunakan secara luas di industri. Penggunaan terbanyaknya adalah sebagai bahan penampik api, yang diaplikasikan di mainan, jok mobil, mesin pesawat, sampai pakaian pemadam kebakaran. Antimon juga digunakan pada berbagai produk kaca, keramik, dan baterai.

Dibanding saudara-saudaranya yang juga beracun–seperti timbal, arsenik, barium, dan aluminium–, antimon tidak sering terdengar. Situasi ini tidak ideal karena antimon terdapat di banyak barang di sekitar kita dan paparan racunnya bisa membahayakan kesehatan.

Paparan senyawa antimon biasa terjadi melalui dua cara: pekerjaan rutin dan terapi. Gejala dan masalah yang ditimbulkan bisa sangat berbeda antara keduanya. Di luar itu, ada antimon juga bisa menyusup ke tubuh lewat air minum. Meski jumlah kasus yang ditemukan sangat kecil, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat pernah mengeluarkan peringatan bahwa minum air dengan kandungan antimon tinggi dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Terpapar Akibat Pekerjaan

Orang yang bekerja di industri atau lokasi yang bersinggungan dengan senyawa antimon memiliki prevalensi tinggi kena paparan. Penelitian menyatakan para pekerja pelabuhan merupakan kelompok pekerja yang paling rentan terpapar antimon.

Penyebabnya adalah antimon digunakan di kampas rem truk dan alat-alat berat, yang menjadi “teman kerja” para buruh pelabuhan setiap hari. Dari kendaraan, racun antimon tersebar bersama sisa gerusan kampas rem dan terhirup para pekerja. Penelitian mendapati mereka memiliki kandungan antimon terbanyak dalam darah dibanding kelompok pekerja lain. Buruh pelabuhan juga dicurigai terpapar berbagai kandungan logam berat lain.

Hal yang mengejutkan dari penelitian soal paparan antimon pada kelompok pekerja adalah tidak ditemukannya kandungan kimia berbahaya tersebut pada anggota pemadam kebakaran. Padahal, sejak 1960-an, hampir seluruh pemadam kebakaran di dunia mengenakan mantel anti api yang dilapisi antimon.

Terpapar Akibat Terapi

Kita juga bisa terpapar antimon akibat terapi schistosomiasis (dikenal juga dengan bilharziasis, demam siput, demam Katayama) dan leishmaniasis (penyakit yang disebabkan oleh parasit lewat gigitan lalat). Antimoni digunakan dalam terapi kedua penyakit tersebut. Efek sampingnya bisa memicu radang pankreas dan kerusakan jantung.

Masalah Kesehatan yang Ditimbulkan

Paparan antimon menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Orang yang sehari-hari berada di lingkungan yang dipenuhi senyawa antimon, seperti pekerja pelabuhan, dapat menderita gangguan seperti pneumoconiosis (penumpukan debu dalam paru-paru), masalah perut dan dan pencernaan, muncul bintik-bintik pada kulit, dan iritasi saluran pernafasan. Masalah yang lebih berat terjadi ketika seseorang betul-betul menghirup debu antimon. Orang itu dapat menderita depresi, pusing, sakit kepala, muntah-muntah, sakit ginjal, atau sakit liver. Salah satu senyawa, yaitu antimon trioksida, bahkan tergolong karsinogen atau zat penyebab kanker.

Mengurangi Risiko Paparan Antimon

Selama beberapa dekade terakhir, berbagai lingkungan kerja telah membuat arahan untuk mengurangi risiko keracunan antimon. Begitu juga terapi di rumah sakit, yang dikontrol dengan ketat untuk menekan kemungkinan terjadinya efek samping. Para pasien terapi schistosomiasis dan leishmaniasis terus dipantau kadar antimon dalam darahnya.

Badan Kesehatan Amerika Serikat dan Eropa juga memantau kandungan antimon di berbagai minuman jus konsentrat, serta air minum kemasan. Sebab, ada kemungkinan antimon masuk ke air dari penguraian botol plastik.

Di luar upaya pemerintah, hal yang lebih penting adalah mengontrol diri sendiri dengan memperhatikan setiap makanan dan minuman yang kita konsumsi. Meski tidak bekerja di pelabuhan, kita juga perlu mawas diri terhadap lingkungan kerja, tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu setiap hari.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*